MANADO, JEJAKPERINTIS.COM – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado bersama Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menggelar Seminar Publik Indonesia Sustainable Trade and Investment Report 2026, Kamis (27/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Gedung F1 FEB Unsrat tersebut mengangkat tema “From Fragmentation to Transformation: Strengthening the Green Economy as a Strategy for Indonesia’s Competitiveness.”
Seminar ini menjadi ruang strategis untuk membahas perkembangan perdagangan dan investasi Indonesia di tengah perubahan lanskap ekonomi global, sekaligus mendorong penguatan ekonomi hijau sebagai bagian dari strategi meningkatkan daya saing nasional.
Rektor Unsrat, Prof. Dr. Ir. Jamaludin Jompa, MSc, dalam sambutan tertulis yang dibacakan Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum, Prof. Dr. Ir. Royke I. Montolalu, SPi, MSc, menyampaikan apresiasi terhadap kolaborasi FEB Unsrat dan CSIS.
Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga kajian strategis memiliki peran penting dalam menghasilkan penelitian dan rekomendasi yang dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Perubahan besar sedang terjadi dalam lanskap ekonomi dunia. Rantai pasok global semakin tertekan, persaingan perdagangan semakin kompleks, sementara perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat,” ujar Montolalu.
Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi tuntutan untuk merespons perubahan iklim dan mempercepat transisi menuju pembangunan berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, ekonomi hijau dinilai memiliki posisi penting. Indonesia memiliki modal besar berupa kekayaan sumber daya alam, potensi energi terbarukan, sumber daya manusia serta posisi geografis yang strategis.
Namun, kekuatan tersebut harus mampu ditransformasikan menjadi nilai tambah, inovasi dan pengembangan teknologi industri berkelanjutan yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.
Montolalu menegaskan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab penting dalam mendorong pengembangan potensi ekonomi hijau, termasuk di kawasan Timur Indonesia.
Ia juga menekankan pentingnya hasil penelitian perguruan tinggi agar tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat dan menjadi masukan dalam penyusunan kebijakan.
“Penelitian yang dihasilkan bisa berdampak pada masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Peneliti Senior CSIS, Dandy Rafifrandri, dalam paparannya menjelaskan sejumlah tantangan yang dihadapi Indonesia dalam proses transformasi ekonomi, khususnya terkait agenda dekarbonisasi.
Menurutnya, Indonesia memiliki target menjadi negara maju pada 2045, sekaligus memiliki target Net Zero Emission pada 2060. Untuk mencapai target tersebut, transformasi menuju ekonomi rendah karbon menjadi salah satu langkah penting.
CSIS sendiri telah mengembangkan kajian mengenai perubahan iklim dan dekarbonisasi ekonomi. Salah satunya melalui program Decarbonization for Development Lab yang melihat bagaimana perekonomian Indonesia dapat menjalani proses dekarbonisasi.
Dalam seminar tersebut, dua peneliti CSIS, Dwiwulan dan Via Azlia, kemudian memaparkan hasil kajian Sustainable Trade and Investment Report 2026.
Pembahasan dilanjutkan dengan diskusi panel yang menghadirkan Research Associate Unsrat SDGs, Ir. Hermina Syaloom Korompis; Dewan KEK Bitung, Drs. Hendrik Rueben Tendean; serta Karo Ekonomi Setdaprov Sulut, Reza AW Dotulong.
Seminar turut dihadiri Dekan FEB Unsrat Dr. Victor PK Lengkong, SE, MSi, CWM, Direktur SDGs FEB Unsrat Hizkia Tasik, SE, MA, PhD, akademisi, mahasiswa serta pelaku usaha di Sulawesi Utara.
Kolaborasi FEB Unsrat dan CSIS ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara dunia akademik, lembaga penelitian, pemerintah dan dunia usaha dalam merumuskan kebijakan perdagangan serta investasi yang lebih adaptif, berkelanjutan dan mampu menjawab tantangan ekonomi masa depan.












