MANADO, JEJAKPERINTIS.COM – Wisuda bukan sekadar seremoni penyerahan ijazah, tetapi menjadi momentum untuk merayakan kemandirian berpikir serta kesiapan lulusan menghadapi kehidupan setelah menempuh pendidikan tinggi.
Pesan tersebut disampaikan Plt Rektor Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Prof. Dr. Ir. Jamaludin Jompa, MSc, saat memberikan sambutan pada Wisuda Gelombang I Tahun Akademik 2026/2027, Kamis (20/8/2026).
Sebanyak 1.017 wisudawan dari 11 fakultas dan program pascasarjana mengikuti prosesi wisuda yang berlangsung di lingkungan Kampus Unsrat.
Jamaludin mengingatkan para lulusan bahwa keberhasilan yang diraih bukan semata-mata hasil perjuangan pribadi. Di balik toga yang dikenakan, terdapat peran orang tua, keluarga, dosen, tenaga kependidikan, serta berbagai pihak yang mendukung perjalanan akademik para mahasiswa.
Ia pun mengajak para wisudawan untuk sejenak melihat wajah orang tua dan keluarga yang hadir dalam momen tersebut.
Menurutnya, perjalanan menuju kelulusan tidak selalu mudah. Para mahasiswa telah melewati berbagai tantangan, mulai dari tugas akademik, penelitian, kegagalan, hingga masa-masa ketika muncul keinginan untuk menyerah.
Namun, mereka memilih bertahan dan terus melangkah hingga akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan.
“Wisuda bukan sekadar upacara penerimaan ijazah. Wisuda adalah perayaan atas kemandirian berpikir, kemandirian dari ketidaktahuan, kemandirian dari rasa takut untuk mencoba, dan kemandirian untuk menentukan masa depan dengan pengetahuan serta karakter yang keras,” pesan Jamaludin.
Ia juga mengingatkan para lulusan terhadap falsafah Universitas Sam Ratulangi yang diwariskan dari Dr. Sam Ratulangi, yakni “Sitou Timou Tumou Tou”—manusia hidup untuk memanusiakan manusia.
Falsafah tersebut, kata Jamaludin, harus menjadi pegangan bagi para lulusan dalam menjalani kehidupan dan pengabdian di tengah masyarakat.
Kesuksesan, lanjutnya, tidak hanya diukur dari jabatan maupun pencapaian pribadi, tetapi juga dari sejauh mana keberadaan seseorang mampu membuat orang lain tumbuh, berdaya, dan menjalani kehidupan yang lebih bermakna.
Jamaludin juga berpesan agar para lulusan tidak berhenti belajar setelah memperoleh ijazah.
“Ijazah menandai selesainya suatu jenjang pendidikan, bukan berarti berhenti dari proses belajar,” ujarnya.
Ia meminta para alumni Unsrat untuk tetap rendah hati, menjaga integritas, serta membawa nama baik keluarga dan almamater di mana pun berada.
Tantangan Dunia Semakin Kompleks
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus SE melalui sambutan tertulis yang dibacakan Wakil Gubernur Sulut Dr. J. Victor Mailangkay SH MH, menyampaikan bahwa gelar akademik merupakan hasil dari proses panjang yang membutuhkan kerja keras, disiplin, ketekunan dan pengorbanan.
Karena itu, wisuda hendaknya tidak dipandang sebagai akhir perjalanan pendidikan, melainkan awal dari perjalanan pengabdian yang lebih besar.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, kata Gubernur, terus mendorong sinergi dengan Unsrat dalam bidang pembangunan, penelitian, inovasi dan pengembangan sumber daya manusia.
Unsrat dinilai memiliki peran strategis sebagai salah satu kekuatan intelektual sekaligus pencetak sumber daya manusia bagi Sulawesi Utara dan Indonesia.
Para lulusan juga dihadapkan pada berbagai perubahan besar, mulai dari perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, dinamika ekonomi hingga persaingan global.
Karena itu, lulusan dituntut untuk terus belajar, beradaptasi, memiliki integritas, mampu bekerja sama dan berani mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat.
“Jangan pernah merasa cukup dengan apa yang telah diperoleh di bangku kuliah. Jadilah pribadi yang ingin terus berkembang, terbuka terhadap perubahan, dan berani mengambil peran dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di tengah-tengah masyarakat,” pesan Gubernur.
Prosesi wisuda tersebut turut dihadiri jajaran Forkopimda Sulawesi Utara, pimpinan Unsrat, tamu undangan, serta ribuan orang tua dan wali wisudawan.






