BeritaDaerahMinahasa

Dari Cuek Jadi Peduli: Kisah Raien Simbala Setelah Ikut Skrining Kesehatan

×

Dari Cuek Jadi Peduli: Kisah Raien Simbala Setelah Ikut Skrining Kesehatan

Sebarkan artikel ini

Tondano, jejakperintis.com – Kesibukan perkuliahan, aktivitas organisasi, hingga kehidupan sosial sering kali membuat mahasiswa lupa memperhatikan kondisi kesehatannya. Padahal, menjaga kesehatan sejak usia muda merupakan langkah penting untuk mencegah munculnya berbagai penyakit di masa mendatang. Salah satu upaya sederhana yang dapat dilakukan adalah melalui skrining kesehatan secara rutin.

Skrining kesehatan merupakan proses pemeriksaan untuk mendeteksi potensi penyakit atau gangguan kesehatan sejak dini, bahkan sebelum gejala muncul. Pemeriksaan ini penting dilakukan karena beberapa penyakit seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, hingga gangguan kesehatan mental dapat berkembang secara perlahan tanpa disadari. Dengan melakukan skrining, seseorang dapat mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.

Mahasiswa termasuk kelompok usia produktif yang umumnya merasa masih sehat dan jarang mengalami keluhan penyakit serius. Kondisi tersebut membuat banyak mahasiswa menganggap pemeriksaan kesehatan bukanlah hal yang penting. Namun, pola hidup yang dijalani selama masa kuliah justru dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Jadwal yang padat, pola makan tidak teratur, kurang tidur, stres akibat tugas dan ujian, serta minimnya aktivitas fisik menjadi faktor yang dapat memengaruhi kesehatan tubuh maupun mental.

Raien Simbala (20), seorang mahasiswa, mengaku sebelumnya tidak terlalu peduli terhadap kondisi kesehatannya. Ia berpikir bahwa selama masih muda dan tidak merasakan sakit, pemeriksaan kesehatan belum diperlukan. Namun pandangannya berubah setelah mengikuti kegiatan skrining kesehatan yang diadakan di kampus.

“Awalnya saya pikir kalau masih muda dan tidak ada keluhan berarti tubuh sehat-sehat saja. Tapi setelah ikut skrining kesehatan, saya jadi lebih sadar bahwa menjaga kesehatan itu penting sejak sekarang,” ujar Raien.

Menurutnya, hasil pemeriksaan kesehatan memberikan gambaran nyata mengenai kondisi tubuh yang selama ini kurang diperhatikan. Dari hasil skrining tersebut, ia mulai memahami pentingnya menjaga pola hidup sehat agar tetap produktif selama menjalani perkuliahan.

“Setelah ikut skrining, saya mulai memperbaiki pola makan, lebih rutin olahraga, dan berusaha mengatur waktu istirahat supaya tidak sering begadang,” tambahnya.

Beberapa jenis skrining kesehatan yang dianjurkan bagi mahasiswa antara lain pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, indeks massa tubuh (IMT), kadar kolesterol, serta pemeriksaan kesehatan mental. Pemeriksaan tersebut umumnya mudah dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama dan tidak membutuhkan waktu lama. Selain itu, biaya pemeriksaannya juga relatif terjangkau sehingga dapat diakses oleh berbagai kalangan.

Skrining kesehatan tidak hanya bermanfaat untuk mendeteksi penyakit, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai pentingnya pola hidup sehat. Dengan mengetahui kondisi tubuh secara berkala, mahasiswa dapat lebih cepat melakukan perubahan gaya hidup sebelum muncul masalah kesehatan yang lebih serius.

Membangun kebiasaan melakukan skrining kesehatan sejak usia muda merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan. Tubuh yang sehat akan membantu mahasiswa menjalani aktivitas akademik secara optimal, meningkatkan konsentrasi belajar, serta mendukung produktivitas sehari-hari. Karena itu, mahasiswa perlu mulai peduli terhadap kesehatannya dan tidak menunggu sakit terlebih dahulu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin.(HerieS)

width="120" height="600"/>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *