BeritaManado

Guru Besar UNSRAT Prof Roike Montolalu Tawarkan Inovasi Hasil Laut untuk Program MBG

×

Guru Besar UNSRAT Prof Roike Montolalu Tawarkan Inovasi Hasil Laut untuk Program MBG

Sebarkan artikel ini
Prof Roike Montolalu dari UNSRAT mendorong inovasi pengolahan ikan, rumput laut dan teknologi pangan berbasis hasil laut untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis.(Foto: Redaksi Jejakperintis.com)

Prof Roike Montolalu Dorong Pemanfaatan Hasil Perikanan untuk Mendukung Program Makan Bergizi Gratis

Jejakperintis.com, MANADO — Kekayaan sumber daya laut Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pangan bergizi masyarakat, termasuk melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Gagasan tersebut menjadi perhatian Prof. Dr. Roike Iwan Montolalu, S.Pi., M.Sc., Guru Besar Bidang Pengolahan Hasil Laut atau Hasil Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) Manado.

Jauh sebelum pemanfaatan ikan dalam program MBG kembali menjadi perhatian dalam kerja sama pemerintah, Prof. Roike telah mengangkat tema pemanfaatan hasil laut dalam orasi ilmiah pengukuhan profesornya pada 16 Januari 2025.

Orasi ilmiah tersebut mengangkat tema “Dari Laut ke Meja Makan: Inovasi Pengolahan Hasil Laut atau Hasil Perikanan untuk Mendukung Program Pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG)”.

Menurut Prof. Roike, kekayaan laut tidak cukup hanya dilihat sebagai komoditas ekonomi. Hasil perikanan juga mempunyai posisi strategis sebagai sumber pangan yang dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas gizi masyarakat apabila dikelola dengan teknologi yang tepat.

“Potensi hasil perikanan harus dapat diolah menjadi pangan yang aman, berkualitas, bergizi dan dapat dijangkau masyarakat. Jadi, kekayaan laut tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” demikian gagasan yang ditekankan Prof. Roike dalam pemikirannya mengenai pengolahan hasil perikanan.

Dari Laut ke Meja Makan

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki sumber daya ikan yang sangat besar. Namun, ketersediaan ikan di wilayah produksi belum otomatis menjamin produk tersebut dapat sampai ke konsumen dalam kondisi bermutu dan aman.

Persoalan penanganan pascapanen, penyimpanan, distribusi, rantai dingin hingga pengolahan menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.

Dalam konteks MBG, persoalan tersebut menjadi semakin relevan karena penyediaan makanan dalam jumlah besar membutuhkan bahan baku yang tersedia secara konsisten, aman, bergizi dan memiliki mutu yang terjamin.

Prof. Roike menilai teknologi hasil perikanan dapat mengambil peran penting dalam menjawab tantangan tersebut.

Pengembangan produk ikan yang praktis, aman dan memiliki masa simpan lebih baik dapat menjadi salah satu alternatif untuk mendukung distribusi pangan, khususnya di wilayah kepulauan.

“Teknologi pengolahan hasil perikanan harus diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Bukan hanya bagaimana menghasilkan produk, tetapi juga bagaimana mempertahankan mutu, keamanan dan nilai gizinya sampai makanan tersebut dikonsumsi,” menjadi salah satu prinsip yang ditekankan dalam pendekatan akademiknya.

Cakalang dan Potensi Produk Lokal

Sulawesi Utara memiliki sejumlah komoditas perikanan unggulan yang berpotensi dikembangkan menjadi pangan bernilai tambah. Salah satunya adalah ikan cakalang.

Prof. Roike bersama sejumlah peneliti telah melakukan berbagai kajian mengenai pengolahan ikan, termasuk pemanfaatan teknologi pengasapan dan pengemasan.

Produk seperti cakalang fufu dan pampis cakalang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut dengan pendekatan teknologi sehingga kualitas, keamanan dan masa simpannya dapat dikendalikan dengan lebih baik.

Pengembangan tersebut dapat diarahkan pada produk yang lebih praktis, termasuk produk ikan matang tanpa duri maupun olahan yang lebih mudah didistribusikan.

Namun, Prof. Roike menekankan bahwa pengolahan ikan untuk kebutuhan pangan massal tetap harus memperhatikan aspek keamanan.

Pengendalian suhu, kebersihan proses, pengujian mikrobiologi, masa simpan dan sistem distribusi menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pengembangan produk hasil perikanan.

Rumput Laut sebagai Pangan Alternatif

Tidak hanya ikan, rumput laut juga dinilai mempunyai peluang dalam pengembangan pangan berbasis sumber daya laut.

Dalam perjalanan penelitiannya, Prof. Roike turut menaruh perhatian terhadap pemanfaatan bahan hasil laut untuk pengembangan pangan fungsional dan bahan pangan bernilai tambah.

Rumput laut dapat dikembangkan menjadi berbagai produk pangan maupun bahan tambahan pangan. Namun, penerapannya untuk kebutuhan program berskala besar tetap memerlukan penelitian mengenai komposisi gizi, keamanan, takaran konsumsi dan penerimaan masyarakat.

Menurut Prof. Roike, diversifikasi pangan perlu melihat potensi yang tersedia di setiap daerah.

Dengan karakteristik Sulawesi Utara sebagai wilayah kepulauan dan salah satu daerah penghasil komoditas perikanan, sumber daya laut dapat menjadi bagian dari pengembangan pangan lokal.

Teknologi Pengemasan Menjadi Bagian Penting

Selain bahan baku, persoalan pengemasan juga menjadi perhatian dalam teknologi hasil perikanan.

Makanan yang diproduksi dalam jumlah besar membutuhkan sistem pengemasan yang mampu menjaga mutu selama proses penyimpanan dan distribusi.

Penelitian Prof. Roike bersama tim mengenai edible film berbahan karagenan, protein miofibril dan kolagen menjadi salah satu contoh pengembangan teknologi yang memanfaatkan bahan hasil laut.

Penelitian tersebut mengkaji berbagai karakteristik material, termasuk ketebalan, kelarutan, kekuatan tarik, elastisitas, permeabilitas terhadap uap air dan aktivitas antioksidan.

Bagi Prof. Roike, teknologi pengemasan memiliki peran penting dalam menjaga kualitas makanan dari tempat produksi hingga sampai ke tangan konsumen.

Meski demikian, penerapan teknologi hasil penelitian untuk kebutuhan MBG masih membutuhkan tahapan pengujian dan pengembangan lebih lanjut, termasuk aspek keamanan, biaya, ketahanan selama distribusi dan kelayakan produksi dalam skala besar.

Membuka Peluang Ekonomi Masyarakat Pesisir

Pemanfaatan ikan lokal untuk mendukung kebutuhan pangan juga berpotensi memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat.

Jika kebutuhan ikan untuk program pangan dapat dipenuhi melalui rantai pasok yang terencana, nelayan, pembudidaya, kelompok pengolah, koperasi hingga pelaku usaha mikro dan kecil dapat mengambil bagian dalam ekosistem tersebut.

Namun, keterlibatan pelaku usaha lokal harus disertai dengan pemenuhan standar keamanan pangan, kapasitas produksi dan kesinambungan pasokan.

Prof. Roike melihat pengembangan teknologi hasil perikanan tidak hanya berkaitan dengan laboratorium dan penelitian, tetapi juga bagaimana hasil penelitian tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Penelitian harus memiliki manfaat. Ilmu pengetahuan perlu diterjemahkan menjadi teknologi yang bisa digunakan, produk yang dapat dikembangkan dan solusi yang menjawab kebutuhan masyarakat,” menjadi semangat yang melekat dalam gagasan pengembangan hasil perikanan yang dikembangkan Prof. Roike.

Peran UNSRAT dalam Pengembangan Pangan Berbasis Laut

Prof. Roike memiliki latar belakang akademik di bidang teknologi hasil perikanan dan menempuh pendidikan magister serta doktoral di Tokyo University of Marine Science and Technology, Jepang.

Di lingkungan UNSRAT, ia juga memiliki pengalaman dalam pengelolaan program studi, penelitian, pengabdian kepada masyarakat hingga pengelolaan kelembagaan universitas.

Pengalaman tersebut menjadi modal untuk mendorong kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab persoalan pangan dan gizi.

UNSRAT, menurutnya, memiliki peluang memperkuat riset lintas disiplin yang menghubungkan perikanan, teknologi pangan, kesehatan, gizi, kedokteran, ekonomi dan lingkungan.

Kolaborasi tersebut penting karena persoalan pangan bergizi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan makanan, tetapi juga menyangkut keamanan, nilai gizi, penerimaan konsumen, distribusi, pembiayaan serta keberlanjutan sumber daya.

Gagasan yang Semakin Relevan

Gagasan Prof. Roike mengenai pemanfaatan hasil laut memperoleh relevansi dengan meningkatnya perhatian pemerintah terhadap pemanfaatan ikan dalam pelaksanaan MBG.

Pada 30 September 2026, Badan Gizi Nasional dan Kementerian Kelautan dan Perikanan memperkuat kerja sama terkait pemanfaatan ikan sebagai salah satu sumber protein dalam program tersebut.

Penguatan rantai dingin, produk perikanan olahan yang memenuhi standar keamanan pangan serta pemanfaatan potensi pangan sesuai karakteristik daerah menjadi bagian penting dalam pengembangan tersebut.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan yang telah dibawa Prof. Roike ke ruang akademik sejak orasi pengukuhan profesornya memiliki hubungan erat dengan kebutuhan pembangunan pangan saat ini.

Namun, gagasan akademik tersebut tetap membutuhkan proses panjang sebelum dapat diterapkan secara luas.

Diperlukan penelitian lanjutan, pengujian, standardisasi, pengembangan produk, penguatan industri serta kemitraan antara perguruan tinggi, pemerintah dan pelaku usaha.

Bagi Prof. Roike, pendekatan “dari laut ke meja makan” bukan sekadar slogan. Konsep tersebut menggambarkan bagaimana sumber daya laut dapat diolah melalui ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga menghasilkan pangan yang aman, bergizi, terjangkau dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Pada akhirnya, laut Indonesia bukan hanya sumber kekayaan ekonomi. Dengan dukungan riset dan teknologi yang tepat, hasil laut juga dapat menjadi bagian dari solusi pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi anak bangsa.

Bagi Sulawesi Utara, potensi tersebut menjadi peluang untuk mempertemukan kekuatan sektor perikanan, perguruan tinggi, pemerintah dan industri lokal.

Dari laut ke meja makan, tantangannya kini adalah memastikan setiap gagasan ilmiah dapat diterjemahkan menjadi inovasi yang benar-benar hadir di tengah masyarakat.

width="120" height="600"/>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *